7.26.2011

Sinopsis HomeTown Legend-Gumiho Episode 2


Hometown Legends Episode 2 – Child, Let’s Go To The Mountains

Semuanya dimulai pada sebuah malam yang bulannya bersinar terang, dimana seorang petani yang kelelahan memeluk bayinya dengan erat. Di sebuah rumah bangsawan, seorang ibu dengan gelisah menunggui putrinya yang sakit parah dan belum juga sembuh. Suaminya menyuruh wanita itu untuk menunggu dengan sabar sampai seorang tabib terkenal tiba dan melihat keadaan putri mereka.
Di suatu tempat yang lainnya, seorang pria membuang mayat laki2, di tengah malam dan darahnya berceceran, tapi tanda darah itu sama sekali tidak mau hilang. Kemudian dia mengeluarkan peralatan yang berisi pisau dan mulai memotong mayat itu.
Kamera kemudian mengikuti seekor kupu2 kuning yang terbang ke tumpukan batu nisan. Rupanya pria itu adalah penjual organ tubuh manusia. Dia menyerahkan sebuah organ tubuh tertentu pada seorang wanita yang make-up nya berlebihan. Wanita itu adalah tabib wanita setempat atau dia mungkin saja penyihir. Dia tidak bisa melakukan pekerjaannya tanpa kiriman bagian tubuh manusia.
Keesokan paginya, gadis bangsawan, yang bernama Yon-hwa itu dirawat oleh tabib terbaik di ibukota. Gadis itu sadar cukup lama untuk mengenali ibunya tapi kemudian pingsan lagi. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter itu memberitahu orang tua Yon-hwa yang sangat stress itu kalau sakit putri mereka akan bertambah parah meski dia sudah melakukan semua teknik akupuntur. Ibu Yon-hwa tidak mau membiarkan anaknya mati begitu saja (dia sudah pernah kehilangan anaknya yang lain) dan bersumpah akan melakukan apa saja.
Pada malam hari, ibu memberi makan Yon-hwa semangkuk kecil darahnya. Yon-hwa sadar perlahan-lahan dan bertanya apakah dia akan mati seperti kakak lelakinya. Ibu Yon-hwa pergi ke kuil untuk berdoa, untuk waktu yang sangat lama, bahkan sampai siang. Seorang pelayan tiba dan membawa berita tentang seorang penyihir hebat yang bisa menyembuhkan sakit semua orang. Pada awalnya, ibu tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh pelayannya karena dia tidak percaya pada hal2 yang berbau penyihir. Tapi keinginan untuk menyembuhkan anaknya membuatnya tergoda juga.
Ketika ibu pergi untuk bertemu penyihir itu, dia memberikan penyihir itu banyak kotak hadiah – pada dasarnya, dia mau mengosongkan rumahnya untuk memberikan apapun yang diinginkan penyihir itu asalkan dia bisa punya anak yang sehat. Ibu Yon-hwa menolak keras menggunakan hati bayi manusia (karena masih suci) untuk menyembuhkan anaknya. Akan tetapi, penyihir itu malah marah dan mengatakan hal2 yang seharusnya tidak diketahui ibu, yang membuat ibu yakin kalau penyihir ini bisa menyembuhkan Yon-hwa.
Pada akhirnya, keinginan ibu untuk menymbuhkan Yon-hwa mengalahkan moralnya. Pada tengah malam, penyihir itu menggali kubur seorang anak yang telah mati beberapa waktu tapi mayat itu sudah busuk. Wanita penyihir itu ketakutan dan ingat apa yang pernah dikatakan pencuri makam padanya – sebelum musim dingin tiba, pencuri itu harus mendapatkan organ dari manusia yang masih hidup atau mereka yang baru mati beberapa hari.
Tuan Pemburu Mayat dipukuli oleh para pria lainnya di sebuah tempat minum sebab mereka berpikir pekerjaan sebagai pemburu mayat sangat menjijikkan. Dia pulang ke rumah dengan tertekan dan setuju pada pekerjaan baru yang diberikan penyihir. Kali ini tidak memotong mayat manusia. Pria itu harus berdandan sebagai seorang yangban dan berpura-pura akan mengadopsi mayat. Dia sangat gembira karena akan melakukan hal baik tapi tentu saja, kita sudah tahu apa yang akan terjadi pada anak yang dia adopsi.
Keesokan harinya, pria ini bertabrakan dengan wanita yang kita lihat di awal film. Wanita miskin ini sedang berjuang untuk mencari makan dan meninggalkan anaknya sendirian. Usahanya untuk mengemis makanan tidak menghasilkan apa2, jadi dia pulang ke rumah dengan hati hancur dan menunggu kematian menjemput dia dan anaknya. Pria itu membuntuti wanita miskin itu pulang dan memberinya makan. Dia berusaha meyakinkan wanita itu agar mau melepaskan anaknya dengan dalih kalau anaknya lebih baik bersama keluarga kaya.
Wanita miskin itu berusaha mengikuti pria itu pulang ke rumah penyihir. Menyadari ada yang salah, wanita itu mencoba merebut kembali bayinya dan mencoba kabur tapi dia dihentikan oleh ayunan pisau penyihir. Dalam pertarungan yang terjadi, ibu miskin itu menerima luka parah di leher dari pencuri organ manusia yang menyamar sbg yangban itu. Ketika pria itu mencoba mengubur wanita miskin di tengah malam, wanita itu menghilang dan dia jatuh ke dalam kubur yang dia gali dengan kaget.
Ibu Yon-hwa memasakkan hati untuk anaknya dan memberikan makanan itu pada anaknya. Yon-hwa menolaknya tapi penyihir sudah memberitahu ibu untuk memerikan makan Yon-hwa makanan itu sampai habis. Jadi gadis miskin itu dikorbankan dalam hal ini.
Berita bagusnya – yang membuatnya orang tuanya kaget – adalah Yon-hwa mendapatkan kesembuhannya kembali. Ibu Yon-hwa melakukan kunjungan ke tempat penyihir itu. Dia mengucapkan terima kasih pada penyihir itu karena sudah membantu kesembuhan anaknya. Ibu juga membawa banyak makanan dan uang. Ibu menambahkan kalau segala hal yang diperlukan anggota keluarga bayi yang meninggal harus dipenuhi.
Ibu miskin itu sebenarnya tidak meninggal dan menghabiskan waktunya untuk mencari bayinya yang hilang – dia kelihatannya telah melupakan kejadian dramatis yang menimpanya malam sebelumnya. Kemudian wanita itu jatuh ke jurang sedangkan rohnya berkelana mencari anaknya. Ketika dia datang ke jurang itu dan melihat mayatnya sendiri, dia ingat semua kejadian yang terjadi pada anaknya.
Pada suatu malam, Yon-hwa bangun dengan cahaya setan di matanya sebagai jawaban atas panggilan ibu miskin itu terhadap anaknya. Yon-hwa berjalan dalam tidurnya sebentar dan ibu mampu membawa Yon-hwa kembali ke dunia nyata.
Pada suatu siang, seorang penebang pohon menemukan mayat wanita miskin itu di jurang, memegang bayinya dengan tangannya. Si pemburu organ diusir oleh si penyihir dan dia akhirnya berakhir menjadi tukang mandi mayat di kantor polisi lokal.
Dia mencoba untuk memisahkan tubuh mayat dihadapannya tapi dia tidak bisa melakukannya. Ketika dia mengambil kapak untuk memisahkan mayat ibu dan anak itu, sang ibu malah berbalik dari posisinya semula yang telungkup sebagai pertanyaan untuk mengembalikan bayinya kembali. Pria itu tidak tahu dan mencoba kabur dari wanita itu dengan ketakutan. Akan tetapi, dia tersandung kompor batu bara dan terlempar ke dalam api. Wanita itu melihat ketika pria itu terbakar dan mati dengan cara yang sangat mengenaskan.
Penyihir itu mengadakan upacara pengusiran setan di rumahnya. Tidak ada gunanya sebab wanita itu tetap datang di tengah malam untuk mencari bayinya. Stempel di pintu rumahnya jelas bisa mencegah hantu itu masuk. Keesokan harinya, Yon-hwa berlari dengan gembira bersama pelayan ibunya ketika ibunya mendapatkan kunjungan dari penyihir itu. Ibu mendapatkan lencana pelindung yang disimpan dalam kantong sutra. Penyihir itu memperingatkan agar ibu tidak membukan kantong itu kalau ibu ingin agar nyawa anaknya tetap selamat.
Yon-hwa menangis waktu melihat penyihir itu tapi dia diberikan kantong itu sebagai hadiah karena sudah bersikap baik. Ibu bersumpah bersama anaknya kalau mereka tidak akan membuka kntong itu dan Yon-hwa menjadi tambah penasaran. Ketika Yon-hwa membuka kntong itu, dia menemukan dua jari yang sudah membusuk.
Penyihir langsung tahu kalau ada yang tidak beres saat ibu bertanya kenapa ad jari manusia di dalam kantong itu. Yon-hwa dikabarkan hilang dari kamar tidur siangnya dan malah berada di kamar pelayan. Penyihir memutuskan untuk melakukan upacara pengusiran setan di rumah bangsawan itu.
Yon-hwa pada dasarnya kembali menjadi bayi wanita miskin itu. Dia memiliki kepribadian bayi iyu. Ibu Yon-hwa diperintahkan untuk tidak membuka pintu malam ini tidak peduli apapun yang terjadi. Dia diperingatkan kalau tidak akan ada yang hidup di rumah itu jika ibu membuka pintu.
Malam itu, kembali hantu wanita miskin itu dapat ditangkis dari pintu dan Yon-hwa menangis meminta ibunya (bayi wanita miskin itu yang bicara). Hantu itu pergi ke kamar pelayan. Dia mengenali kalau anak itu bukan bayinya dan melemparnya jauh.
Keesokan harinya, bayi di ruang pelayan ditemukan tewas dan pelayannya menjadi gila. Ayah Yon-hwa mendengar para pelayan bergosip dan mengerti kalau itu menjadi tidak menyenangkan karena istrinya mempekerjakan penyihir. Ibu Yon-hwa sama sekali tidak dan mau melakukan apa saja untuk menyelamatkan anaknya. Ayah tinggal bersama Yon-hwa saat ibu dan penyihir itu menyelesaikan tahap akhir upacara pengusiran setan.
Yon-hwa mengalami demam dan meminta ayah untuk membuka pintu tapi ayah sudah diperintahkan untuk tidak membuka pintu manapun. Pelayan di rumah itu sudah dirasuki oleh hantu dan pergi ke penyihir itu dan meminta anaknya. Penyihir itu melemparkan pisaunya dan pergi dengan perasaan puas. Tapi hantu itu bangkit kembali dan malah menusuk sang penyihir dari belakang lalu pergi mencari Yon-hwa.
Yon-hwa semakin parah dan ayah bergerak keluar untuk mencari pertolongan. Dia melupakan janjinya untuk tidak membuka pintu bagi hantu itu dan akhirnya Yon-hwa dirasuki juga oleh hantu. Yon-hwa yang sudah dirasuki hantu mencoba mencekik ayah.
Ketika ibu berlari ke putrinya yang sedang dirasuki, ayah sedang bergulat dengan Yon-hwa. Ayah melakukan segala cara untuk menghentikan Yon-hwa dan istrinya harus melakukan cara gila untuk melepaskan suaminya dari Yon-hwa: dia memukul kepala suaminya dengan sebuah botol.
Ibu membawa putrinya (dengan digendong di punggungnya) ke pegunungan. Dia berjalan kesana hingga tengah malam. Dia pergi ke tempat dimana hantu itu jatuh hingga mati dan hantu itu muncul lagi. Kedua ibu itu berkelahi untuk mendapatkan kepemilikan anaknya. Pada awalnya, Yon-hwa mengenali ibunya tapi kemudian dia malah pergi ke hantu itu.
Pada akhir perkelahian itu, Yon-hwa berteraik dengan keras dan kesakitan. Ibu kandung Yon-hwa akhirnya memutuskan untuk membiarkan anaknya pergi ketimbang dia menderita lagi. Dia meminta Yon-hwa untuk berjanji agar mengingat wajah ibunya dan lahir kembali menjadi anaknya. Tapi tetap saja, melepaskan itu sulit buat ibu Yon-hwa.
Kekuatan mistis menang dan hantu itu membawa Yon-hwa ke dasar jurang dimana dia jatuh hingga mati. Ibu Yon-hwa sama sekali tidak bisa hidup tanpa anaknya dan akhirnya ikut meloncat juga. Tidak berapa lama, keluarga Yon-hwa yang lain yang prihatin terhadap keadaan ini, juga ikut melompat.
Dalam kehidupan yang lain, kita melihat dua ibu itu dan anaknya berlari bahagia di sebuah padang liar. Tidak ada kilat dan petir. Semuanya terlihat sangat bahagia.
The end.


source :http://meylaniaryanti.wordpress.com/2010/08/20/hometown-legends-episode-2-%E2%80%93-child-let%E2%80%99s-go-to-the-mountains/#comment-1594

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

-Silahkan berkomentar,Mohon ditulis nama,jangan anonim,untuk mengetahui siapa.trims berat^^-

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.